Showing posts with label PTS / Keluarga Seberang. Show all posts
Showing posts with label PTS / Keluarga Seberang. Show all posts

Monday, September 23, 2013

Agus Salim ke Malaysia






Assalamualaikum dan Selamat Sejahtera



Nostalgia Semangat Bersilaturahim 1977


Silaturahim antara keluarga besar Tok Shariff di Indonesia dengan yang di Malaysia memang sudah terjalin lama . . . sejak tahun-tahun 40-an lagi.

Pada zaman itu kemudahan melakukan perjalanan di antara kedua-dua buah negara berjiran ini agak terbatas  . . . belum sehebat sekarang.

Walau pun perkhidmatan penerbangan pesawat penumpang / komersial sudah wujud ketika itu . . . tapi tidaklah sebebas dan sebanyak zaman ini. 






Lagi pun, kos atau tambang melakukan perjalanan dengan cara begini . . . di luar kemampuan banyak orang . . . MAHAL. 

Jadi ramai yang memilih alternatif jalan laut . . .  bertukar kepada cara perjalanan yang jauh lebih rendah kos atau tambangnya . . . dengan menaiki feri . . .  MURAH.  

Tak kiralah walau pun waktu tibanya akan berbeza menjadi lambat dan badan pula sudah tentu akan jadi penat-penat. Janji sampai dan dapat bertemu dengan ahli-ahli keluarga dan sanak saudara . . . di kedua-dua hala negara. 









Aku mula-mula mendengar cerita atau kisah tentang punya keluarga besar di Indonesia daripada Tok Shariff aku sendiri dan juga daripada bapak dan bapak-bapak saudara serta ibu-ibu saudaraku (nasab bapa).

Tetapi sekadar khabar sajalah . Berita yang tidak pernah ternyata kesahihannya . . . di kala itu! 

Tetapi sekarang zaman sudah berubah. Susah ke mudah. Sekali air bah, sekali pasir berubah . . . bak kata pepatah!





Dari kiri:
 Lokman Shariff, Nadzar Shariff, Baharom Shariff, 
Aminah Shariff, Agus Salim, Majid Baharom .
 Depan:
 Alis NoorShamsuddin (sepupu penulis anak kpd Aminah Shariff) 




Kalau kemudiannya keadaan di Malaysia menjadi semakin 'senang' . . . di Indonesia pula tentu juga bertambah 'gampang'!

Maka sejak tahun-tahun 70-an itu terbukalah pintu-pintu lawat-melawati, ziarah-menziarahi di kedua-dua belah pihak keluarga besar kami . . . baik di Malaysia mahu pun di Indonesia. 

Maka semakin erat dan mesralah kami rasakan pertalian persaudaraan antara kami. Alhamdulillah. 


Seingat aku . . . ahli keluarga / sanak saudara dari Indonesia yang awal sekali merintis jalan silaturahim kekeluargaan ke Malaysia ala zaman moden begini . . . selepas era Tok Shariff dan Tok Said sendiri . . . ialah Agus Salim anak lelaki kepada ibu saudaraku yang sulung (nasab bapa) bernama Norani bt Mohd Shariff.







Agus Salim

Abang Agus (panggilanku terhadapnya) mula datang mengunjungi sanak saudara di Malaysia pada pertengahan tahun-tahun 70-an. 









Selepas itu beliau lebih kerap singgah di sini dalam perjalanannya pergi balik ke atau dari negara-negara Barat khusunya Belanda dan Jerman . . . atas urusan rasmi mahu pun peribadi. 

Aku selalu juga bertemu beliau pada waktu-waktu itu . . . tetapi harus mengaku . . . kini sudah terlalu lama aku tidak lagi ketemu dengannya. 








Adik-adikku dan ahli-ahli keluarga yang lain masih ada juga berjumpa dengan Abang Agus di Jakarta . . . tempat beliau bermastautin.

In Sha Allah . . . andai diizinkan Allah SWT . . . kita pasti bertemu jua Abang Agus dan mudah-mudahan dapat berkumpul dalam keadaan dan suasana yang menggembirakan.

KAU laksanakanlah hasrat kami ini, Ya Allah . . .  Amin.

    



bamuda
dsuarang.blogspot.com



Wednesday, February 13, 2013

Kunjungan Putra Aceh


SELASA, 18 DESEMBER 2012

Assalamualaikum dan Selamat Sejahtera




Penghuni d'SUARANG mengucapkan ribuan terima kasih kepada rombongan sanak saudara dari Banda Aceh yang sudi datang berkunjung ke sini pada bulan November 2012. Sebagai penghargaan dsuarang.blogspot.com menerbitkan semula artikel (bertarikh  Selasa 18 Disember 2012) tentang kunjungan itu yang ditulis oleh Hijrah Saputra Junus.

Kepada Putra . . . atuk mohon izin menerbit semula artikel anda yang punya ertinya yang tersendiri di hati kami.





Malaysia, Menyusuri dengan Hati



Sudah berapa kali ke Malaysia selalu ada saja cerita yang menarik untuk diceritakan. Tapi keberangkatanku kali ini bukan hanya untuk berwisata tetapi ikut mengantarkan orang tua untuk check up kesehatan dan sekalian mengunjungi Atuk dan keluarga lain yang ada di Kuala Lumpur dan sekitarnya. Menjadi pengalaman tersendiri ketika mengunjungi atuk disana. 

Hijrah, Bapak dan Mamak disambut Opah Alimah di KLIA
Di Bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA) kami sekeluarga disambut dengan hangat oleh seorang perempuan, yang aku tahu selanjutnya, beliau adalah Opah (Sebutan untuk nenek), Opah Alimah. Opah datang bersama Atuk (sebutan untuk kakek) Abdul Majid Baharom. Sambutan yang sangat hangat oleh atuk dan opah, walaupun sempat diwarnai dengan macetnya kursi di bagian belakang mobil yang membuat aku dan adikku harus duduk di lantai mobil selama perjalanan keluar bandara ditambah lagi hujan yang super dahsyat, berkah. ^_^

Perjalanan selanjutnya kami lanjutkan ke rumah Atuk Sani, salah seorang sahabat Atuk Majid. Beliau juga sempat datang ke Banda Aceh dan Sabang, hanya saja saat itu aku sedang melakukan perjalanan Sail Morotai. Kami pun disambut dengan hangat oleh keluarga Atuk Sani. Ada cerita yang menarik tentang persahabatan di antara Atuk Majid dan Atuk Sani, dulunya mereka 3 sahabat yang tinggal 1 asrama tetapi bersekolah di 3 sekolah yang berbeda, dan persahabatan mereka pun awet dan mesra hingga sekarang. Sebagai bukti persahabatan mereka ada foto dan puisi karya Atuk Majid yang dibingkai di rumah Atuk Sani, sungguh luar biasa.
3 Sekawan, tiada lawan
Oh ya, sebelum ceritanya jauh kemana-mana, aku jelasin sekilas tentang Atuk Majid. Atuk Majid memiliki Nama lengkap Abdul Majid Baharom, beliau adalah saudara sepupu dari oma (nenekku) yang sudah lama menjadi kewarganegaraan Malaysia. Yang aku tau dan sering dengar, ada kesamaan yang dimiliki antara aku dan Atuk Majid, kami berdua suka menulis sesuatu di blog. Ga kebayang kan punya seorang atuk yang juga seorang blogger? How cool are we? hehe.

Mau tau info selengkapnya tentang Atuk Majid, jangan sungkan-sungkan untuk berkunjung kesini, http://dsuarang.blogspot.com

“Likes to live simple....... and will stay simple”

Ada banyak hal yang bisa kupelajari dari Atuk Majid, mulai dari filsafat hidup, bisnis bahkan sampai berkomunikasi. Seringkali selama di D’Suarang (sebutan untuk rumah Atuk Majid) kami menghabiskan malam hingga pagi hari untuk bercerita, aku tau atuk capek, tapi ada kebahagiaan yang terpancar di wajah beliau ketika menceritakan sesuatu yang beliau kerjakan semasa hidup beliau, beliau berkata, “selalu berusaha menjadi orang yang terdepan dan terbaik, agar nantinya dapat bercerita kepada anak cucu kita,” sambil membuka Scraptbook yang telah dibuat beliau sebagai salah satu bukti sejarah, sangat menarik. 

D'Suarang, bukan rumah Gadang, sekedar tempat menumpang
Mamak dan Bapak di D'Suarang bersama Atuk dan Opah
Yang cukup menarik dari keluarga Atuk, semua rumah di keluarga atuk punya nama dan cerita masing-masing. Seperti rumah atuk yang berada di Keramat Ampang-Ulu Kelang (AU), namanya D’Suarang. Kata atuk, Suarang itu berasal dari bahasa Minangkabau yang artinya harta yang diperoleh oleh suami istri selama masa perkahwinan (Kamus Dewan Edisi keempat halaman 1528). 
Sesuai dengan namanya, hal itu juga yang kurasakan selama berada di rumah atuk. Atuk tidak pernah membeda-bedakan orang, Walaupun notabenenya kami adalah cucu dari sepupunya (Oma kami), tapi beliau menganggap kami seperti layaknya cucu beliau langsung, ya setidaknya itu yang kurasakan, ada rasa nyaman dan seperti punya seorang kakek yang dulu pernah kurasakan ketika masih kecil (ketika Opa masih hidup). :’). Ada lagi rumah Onyang (Sebutan untuk buyut) H. Lokman di Taman Seri Segambut diberi nama Bagas Bahagia, yang artinya kurang lebih Rumah Bahagia, menarik ya?
Rumah Onyang Lokman
Bicara tentang Atuk Majid tidak bisa terlepas dengan Opah Alimah. Melihat Atuk dan Opah ini seperti melihat pasangan yang selalu menjadi impian orang-orang, bahagia sampai kakek nenek. Walaupun memiliki karakter yang berbeda-beda, Atuk yang aktif, tegas dan selalu bersemangat, Opah yang penyabar dan lemah lembut, sepertinya saling melengkapi, inilah contoh perbedaan yang memberikan keindahan tersendiri. Kata Opah, “bila sesuatu apapun yang terjadi pertengkaran ataupun pertikaian, sebisa mungkin diselesaikan hanya berdua saja, jangan sampai diketahui oleh orang lain,bahkan oleh anak sendiri,”. Sungguh contoh yang luar biasa untuk diteladani.
Our beloved Atuk Majid dan Opah Alimah
Yaah, harus beresin kerjaan lagi, postingannya kita lanjut nanti ya... (Bersambung)

4 komentar:

weather station mengatakan...
hiii ceritanya seru gan
timbangan digital mengatakan...
mantap gan ceritanya
Hijrah Saputra (Heiji) mengatakan...
Terimaksih yaa...tunggu lanjutannya
Hijrah Saputra (Heiji) mengatakan...
Makasih yaa....main 2 ke sabang

Wednesday, January 11, 2012

Suradji & Co




Assalamualaikum dan Selamat Sejahtera


Keluarga Bahagia


Berikut dipaparkan beberapa foto keluarga Drs Suradji Junus (Raji) dan isteri beliau Erwani Mutia (Meni) dari Sabang, Aceh untuk tatapan keluarga besar di Malaysia. Mereka keponakan penulis.





Terima kasih diucapkan kepada Raji dan Meni yang telah sudi mengunjungi kami di sini. Terima kasih juga diucapkan kepada pasangan ini yang telah bermurah hati memberikan foto-foto ini (siap dengan penerangannya sekali) kepada penulis sebagai cenderahati kenang-kenangan.






Sehingga kita berkumpul lagi pada lain waktu . . . Pak Uda dan Mak Uda sekeluarga mendoakan segala yang terbaik untuk *Raji dan Meni sekeluarga.




Suradji & Co


Kiri: Sulasteri
Kanan: Suradji


Kiri: Erwani Mutia
Kanan: Nur Fadli


Kiri: Harry Susetia
Kanan: Hijrah Saputra



Kiri: Agus Adiyatsah
Kanan: Yuda Aditiya




Kisah Kaus Merah


*[ Raji . . . (tidak seperti Meni) . . . ketika tiba di LCCT, Sepang memang buat pertama kalinya akan bertemu dengan penulis walaupun sebelumnya kami sering berhubungan sama ada melalui 'sms' atau bercakap di telefon. Maka berlakulah percakapan telefon di antara Raji dengan penulis . . . kira-kira begini:

Raji: Assalamualaikum Pak Uda. Pak Uda menunggu kami ya. Kami lagi di tempat mengambil bagasi. Sebentar kita bertemu . . . ya Pak Uda.
 
Pak Uda: Waalaikum salam Raji. OK. Tak apa.

Raji: Saya pakai jaket hitam, celana hitam dan berkaus merah . . . Pak Uda.

Pak Uda: OK.

{Pak Uda berfikir: Tak mengapa . . . nanti mereka akan aku cam jua . . . lagi pun Meni dah pernah aku temui di rumahku dahulu.

Namun oleh kerana Pak Uda sedang mencari tempat letak kenderaan di parkir dan Mak Uda bersendirian menunggu di ruang menanti lapangan terbang itu . . . maka Pak Uda khuatir Mak Uda nanti mengalami masalah mencamkan tetamu-tetamu kami itu. Langsung Pak Uda menelefon Mak Uda. Dengan yakin Pak Uda mengatakan kepada Mak Uda supaya memerhatikan seseorang yang berjaket hitam, berseluar hitam dan berkaus merah. }

Pak Uda: Yang . . . Suradji itu memakai jaket dan seluar hitam dan berkaus merah!


Mak Uda: Kaus merah?

Pak Uda: Ha ah. Kaus tu . . . stokin le . . .

Mak Uda: OK.

{Dah lama kemudian . . . Mak Uda menelefon Pak Uda . . .}

Mak Uda: Tak ada pun orang berstokin merah lalu kat sini, Yang . . . tapi para penumpang dari Aceh pun belum nampak-nampak lalu di sini semuanya . . .

Pak Uda: Mereka mungkin masih lagi di tempat mengambil bagasi . . . Tak apa . . . terus aje tunggu di sana. Sekejap lagi kita tunggu sama-sama.

{Tunggu punya tunggu akhirnya penulis ternampak Meni . . . dan Raji yang memakai jaket dan seluar hitam dan berbaju T-merah. Tidak pula kelihatan stokin merahnya!

Apabila telah berada dalam kenderaanku . . . penulis pun menceritakan secara detail apa yang terjadi ketika aku dan Alimah berusaha menantikan ketibaan Raji dan Meni tadi. Kami semua terbahak-bahak ketawa atas kesalahfahaman erti 'kaus' tadi.

Rupa-rupanya kaus merah yang dimaksudkan Raji tadi ialah . . . Kemeja -T merah . . . bukan stokin merah . . . seperti yang aku fahami (kaus kaki?) . . . Entahlah . . . siapa yang betul . . . siapa pula yang salah.}


Halaman 153 dlm
An Indonesian-English Dictionary




Yang penting . . . the ice has been broken . . . Kami lantas berbual-bual mesra dan bercerita berbagai kisah . . . di samping bertanyakan khabar keluarga masing-masing . . . walaupun Raji baru saja bersua face to face dengan kami buat kali pertamanya.

Terima kasih 'Kaus Merah'.







 



dsuarang.blogspot.com

Monday, January 9, 2012

Dari Sabang Ke Segambut




Assalamualaikum dan Selamat Sejahtera


Ke Rumah Atuk



Sehari sebelum ke Kuala Gandah, Pahang iaitu pada hari Selasa 27 September 2011 aku dan Alimah telah membawa Drs Hj Suradji Junus (Raji) dan Pn Hjh Erwani Mutia (Meni) ke Taman Sri Segambut, Kuala Lumpur. Mereka ingin ke rumah Atuk . . . Tuan Hj Lokman bin Mohd Shariff dan Nenek . . . Pn Hjh Maryam bt Yaakob.


Foto kiri dari kiri : Hj A Razak H. Fatani, Raji, Penulis, Hj Lokman : Foto kanan membelakangkan kamera: A Razak; Dari kiri: Raji, Penulis, Hj Lokman, Alimah, Meni, Hjh Maryam, Hjh Zaleha dan Hj Mohd Nadzar


Foto kiri dari kiri: Raji, Penulis, Hj Lokman Foto kanan dari kiri: Meni dan Hjh Maryam


Hj Lokman ialah adik kepada Allahyarhamah Pn Halimatus Sa'adiah bt Mohd Shariff (nenek Meni). Hj Lokman (Pak Anjang) juga bapa saudara kepada Penulis (nasab bapa). Bapa Penulis . . . Allahyarham Baharom bin Mohd Shariff ialah abang kepada Hj Lokman. Maka dengan demikian Meni itu anak saudara Penulis . . . dan secara automatis suaminya Raji berpangkat anak saudara juga kepada Penulis. Begitu penerangan ringkas tentang pertalian kekeluargaan ini.



Foto kiri: A Razak dan Raji Foto kanan: Raji dan Penulis


Foto kiri: Penulis dan Hj Lokman Foto kanan dari kiri: A Razak, Raji, Penulis dan Hj Lokman


Pertemuan di rumah Atuk Hj Lokman ini ialah kali pertama buat Raji. Meni pula sudah beberapa kali ke rumah Atuknya ini. Walaupun keluarga yang berjauhan ini berkumpul buat seketika sahaja namun banyak hal pertalian keluarga dan cerita kekeluargaan dapat didengari atau diperjelaskan oleh semua pihak yang berkumpul. Kisah-kisah lucu (lelucon) pasti ada diselitkan sebagai selingan apabila ahli-ahli keluarga berkumpul begini.



Di ruang tamu rumah Hj Lokman . . . Taman Sri Segambut. Dari kiri: A Razak, Raji, Penulis, Hj Lokman, Alimah, Meni, Hjh Maryam, Hjh Zaleha dan Hj Mohd Nadzar


Dari kiri:
Hj Mohd Nadzar, A Razak, Raji, Penulis dan Hj Lokman


Tuan Hj Mohd Nadzar bin Mohd Shariff (Atuk Nadzar) . . . abang kepada Hj Lokman . . . dan isteri beliau . . . Pn Hjh Zaleha (Nenek) . . . dari Petaling jaya juga hadir dalam pertemuan keluarga pada hari itu. Hj Mohd Nadzar juga bapa saudara kepada Penulis.



Foto kiri dari kiri: Meni, Hjh Maryam, Su dan Hjh Zaleha Foto kanan duduk hadapan: Su, Meni, Hjh Maryam. Belakang: Alimah dan Hjh Zaleha


Aksi 3 Generasi
Duduk hadapan: Meni dan Hjh Maryam
Duduk belakang: Alimah dan Hjh Zaleha




Pertemuan sekeluarga pada hari kunjungan Raji dan Meni ke Taman Sri Segambut itu menjadi umpama jambatan yang mampu menghubungkan dua daerah yang berjauhan . . . dan sesungguhnya . . . merapatkan pertalian kekeluargaan di antara ahli-ahli keluarga di Seberang dengan yang di Malaysia.

Mudah-mudahan hubungan yang mesra ini berkekalan hingga sampai ke akhir masa. Amin.













dsuarang.blogspot.com
[Belated Publication]